July 2012
5 posts
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
June 2012
2 posts
Sekilas pikirannya diekspansi oleh siluet seorang gadis muda yang bertopang dagu dan tersenyum dengan dua koral merah mudanya. Kembang api merah yang memancar di angkasa bukan apa-apa melainkan hiasan kosong festival baginya. Dirinya seolah dituntun, melangkah ke arah meja yang diisi dua orang itu dan bibirnya bergerak tanpa bisa ia kendalikan. Ekspresi wajahnya kacau. Dia masih terlihat khawatir dan gadis itu tahu dan gadis itu melemparkan ucapannya dengan tepat … ke sasaran yang salah.
“[i]Of course it is[/i]. Hmph.” Dia mengulum senyum. Gegap gempita orang-orang yang menunjuk langit masih semarak, menjadi latar belakang mereka. “Oh… Ya, benar…” [i]You…[/i] Safirnya mendelik kepada pemuda berambut ikal. “Topengku, mungkin … yang kau ambil tadi,” sahutnya kalem. Senyum masih mengembang di wajahnya.
Dia masih berdiri, menatap keduanya sampai tersadar bahwa baik dirinya maupun pemuda itu tidak saling mengenal. Segera tata krama dasar bentukan buku kepribadian paling bagus seantero Inggris merangsek masuk.
“Ah, maafkan aku.” Tangannya terulur. “Pascoe. Alexander Pascoe,[i]Sir[/i],” ujarnya. “Terima kasih telah mengurus temanku dan memberinya gaun yang bagus ini.”
Ditolehkannya kepala ke arah Elizabeth Blanchett yang terlihat lebih dari gembira dibanding akan perannya sebagai Apple Romanoff tadi. Biner kembarnya memberi pandangan menilai kepada gaun brokat hitam yang sedang anak perempuan itu kenakan.
“Tapi kurasa potongannya terlalu rendah untuk seumuran Liz.” Kemudian kepalanya menggeleng segera. “Ah… Tahu apa sih aku tentang pakaian. [i]You’re the best, I can tell…[/i]”
Seekor anjing menggonggong, seolah memaki kepada tuannya yang mabuk. Wiski api tumpah dari gelas ke kostum karnaval pria dengan perut buncit yang berpakaian seperti pelawak gagal dengan kepala botak. Semenit perhatiannya teralih lantas mengorbit kembali kepada dua orang di hadapannya. Dia masih belum mendapatkan topengnya sementara Edward bisa ada di mana saja malam ini.
“[i]Mind if I—[/i]” Alexander hendak menarik kursi ketika seorang yang lain datang menghampiri dan bergabung tanpa tedeng aling-aling.
[color=grey]”…. Siapa dia?”
“…. Pa bilang aku harus menjemput kalian, [i]siap pulang[/i]?” [/color]
“……”
[i]He’s an outcast now.[/i]
Tangannya ditarik kembali, ditautkan ke balik punggung. Dia mengerling tiga sosok tersebut dan menunduk hormat.
“Aku sudah menemukanmu dan sudah menunggu seperti katamu, Tuan. Jadi …” kepalanya terangkat, “… kurasa aku akan undur diri. Selamat malam semuanya.”
[hr][small][spoiler=terjemahan] Of course it is = tentu saja.
You’re the best, I can tell… = Aku tahu kau yang terbaik…
Mind if I— = keberatan jika aku—
He’s an outcast now = dia merasa terasing sekarang.[/spoiler]